Menyedekahi Laut, Menghidupi Nelayan

Menyedekahi Laut, Menghidupi Nelayan
Jumat, 24 September 2010 | 03:20 WIB
KOMPAS/TIMBUKTU HARTHANA
Tohir (50), pemimpin ritual nadran di Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, melemparkan semua hasil alam dan laut, termasuk replika kapal dalam prosesi akhir ritual ini, yakni pelarungan, Rabu (22/9).

Sorak-sorai keluarga nelayan menyatu kala replika kapal bernama Mulya Baruna diangkut ke kapal untuk diarak dan dilarung ke laut.

Di pinggir dermaga Tempat Pelelangan Ikan Bandengan, mereka mengantar persembahan yang diharapkan akan berbalik menjadi berkah berlipat.

Di dalam kapal berukuran 2,5 meter x 0,7 meter itu, Tohir (50) merapal puja-puji. Di antara kepulan asap kemenyan yang memenuhi ruang kapal itu, bibirnya komat-kamit mengucapkan syukur sekaligus permintaan keselamatan kepada penguasa laut.

”(Replika) kapal ini akan dilarung ke laut. Kami menyerahkan hasil bumi kepada penguasa laut. Kami minta diberi kelancaran rezeki untuk nelayan,” kata Tohir, sesepuh desa dan pemimpin ritual nadran Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (22/9).

Nadran (sedekah laut) adalah ritual tahunan yang lazim dihelat para pemburu ikan di pesisir pantai utara, termasuk di Cirebon. Tiap desa atau kampung nelayan di Cirebon memiliki tradisi nadran yang berbeda waktu pelaksanaannya. Ada yang digelar saat memasuki musim kemarau, seperti di Desa Bondet, Kecamatan Gunung Jati, atau menjelang akhir musim kemarau, seperti di Desa Bandengan.

Namun, tujuan pesta laut ini serupa, yakni ungkapan syukur nelayan atas limpahan rezeki yang diterima, sekaligus doa memohon kelancaran usaha menangkap ikan selama setahun ke depan. ”Nadran itu tradisi. Kami melarungkan sesajen ke penguasa laut, tetapi doa permohonan kami tetap kepada Tuhan,” kata Sobali (41), wakil ketua panitia nadran.

Tradisi nadran yang sudah berlangsung ratusan tahun tetap lestari di tengah modernisasi dan budaya pop. Bentuk pelaksanaan ritual mengikuti arus kemajuan zaman, seperti iringan musik dan joget dangdut, arak-arakan replika beragam jenis kapal, hingga tempelan pesan sponsor yang berkibar di perahu-perahu nelayan.

Konon, nadran berasal dari tradisi mandi suci pada masa Kerajaan Tarumanegara, sekitar tahun 410 Masehi, yang tertuang dalam Kitab Negara Kertabumi karya Pangeran Wangsakerta. Ketika itu, Raja Purnawarman meminta agar tradisi mandi suci, seperti di Sungai Gangga, India, dilakukan di wilayah kerajaannya. Dari mandi suci, ritual bergeser jadi pesta laut dan ritual sedekah laut.

Bagi nelayan, ritual ini adalah penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa laut. Ada kepercayaan, jika nelayan lupa memberi sedekah, akan terjadi pasang dan ombak besar sehingga nelayan sulit mencari ikan. Ada pula yang percaya, sedekah laut adalah wujud cerita rakyat Budug Basu dan Dewi Sri, mitologi terbentuknya tumbuhan di bumi dan ikan di laut.

Isi sesajen yang dilarung di antaranya rujak wuni (sayur dari jeroan kerbau), sayuran, buah-buahan, nasi tumpeng, dan kepala kerbau. Sobali mengatakan, membuang kepala kerbau bermakna membuang kebodohan.

Gotong royong

Seluruh kebutuhan pesta laut disediakan secara swadaya oleh nelayan. Pemilik kapal dipungut iuran Rp 100.000-Rp 200.000, tergantung dari besar-kecil kapal. Anak buah kapal dikenai Rp 25.000-Rp 30.000 per orang.

Tak ketinggalan, para remaja anak para nelayan ikut menyumbang, Rp 25.000 per orang. Setiap keluarga nelayan minimal mengeluarkan Rp 100.000. Dana yang terkumpul untuk membuat 15 replika kapal, hiasan, membeli sesajen, dan hiburan.

Semua itu dilakukan gotong royong oleh nelayan. Tradisi ini masih terpelihara di masyarakat pesisir pantai utara Cirebon.

Meski tak sedikit nelayan di Cirebon terbilang miskin, mereka rela patungan demi nadran. Mereka percaya, apa yang dibayarkan sekarang akan berbuah manis, yaitu manakala nelayan pulang dengan sekapal penuh ikan. (THT)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2010/09/24/03203522/menyedekahi.laut.menghidupi.nelayan

Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s