Rancang Bangun Sistem Kebijakan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pesisir (Studi Kasus: DAS dan Pesisir Citarum Jawa Barat)

RINGKASAN DESERTASI

EDWARSYAH. Rancang Bangun Sistem Kebijakan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pesisir (Studi Kasus: DAS dan Pesisir Citarum Jawa Barat). Dibiming oleh TRIDOYO KUSUMASTANTO, HARTRISARI HARDJOMIDJOJO, dan ARIO DAMAR

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu model kebijakan pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai (DAS) yang berkelanjutan di Pesisir ,Pantura dan DAS Citarum Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif atau retrospective melalui studi kasus dengan menggunakan pendekatan sistem.

Pendekatan sistem digunakan untuk merumuskan kebijakan dan skenario strategi  pengembangan sistem kebijakan pengelolaan pesisir dan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bersifat multidimensi, melibatkan berbagai stakeholders dan pakar dibidang pesisir dan DAS lintas sektor dan wilayah.

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif atau retrospective melalui studi kasus dengan menggunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem digunakan untuk merumuskan kebijakan dan skenario strategi  pengembangan sistem kebijakan pengelolaan pesisir dan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bersifat multi dimensi, melibatkan berbagai stakeholders, lintas sektor dan wilayah. Data kualitas air tersebut dipadukan dengan baku mutu PP RI No.82/2001 dan metode indeks pencemaran (IP) Kep Men LH No.115/2003 hasil analisis persepsi stakeholders, yang selanjutnya digunakan sebagai faktor untuk mengevaluasi kinerja kebijakan yang ada saat ini. Kajian pengembangan kebijakan dilakukan dengan cara mengkaji ulang kebijakan (descriptive atau analysis) terhadap keputusan pemerintah saat ini. Kajian tersebut dilakukan untuk mempertahankan kualitas DAS dengan menggunakan pendekatan bukan pasar yaitu command and  control (CAC) yaitu administrasi dan perundang-undangan (Turner et al.1994; Fauzi 2004).

Ada tiga Aspek yang dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengkaji kebijkan saat ini di dalam DAS: (1) aspek kebijakan yaitu kewenangan dan tanggung jawab; (2) aspek kelembagaan; dan (3) aspek peraturan dan perundangan yang berlaku dan berkembang sampai sekarang. Penelitian berikutnya dimulai dengan melakukan analisis kebutuhan stakeholders. Hasil analisis ini menjadi sumber untuk memberikan penilaian (skor) setiap atribut pada masing-masing dimensi dalam rangka menilai keberlanjutan sistem kebijakan saat ini (condition exsisting). Atribut-atribut yang sensitif mempengaruhi nilai indeks kebelanjutan sistem yang dikaji selanjutnya dijadikan faktor-faktor penting dalam sistem dan dianalisis tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor tersebut. Pada tahap berikutnya dilakukan analisis kebutuhan dari semua pihak yang berkepentingan terhadap sistem, sehingga diperoleh faktor-faktor penting, yang selanjutnya juga dilakukan analisis tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor tersebut. Faktor-faktor penting dari kedua hasil analisis (existing condition dan neet analysis) dikombinasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih mencerminkan faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem yang dikaji. Faktor-faktor penting hasil kombinasi dari dua sumber tersebut kembali dilakukan analisis tingkat pengaruh dan kepentingannya, yang selanjutnya dijadikan sebagai variabel untuk membangun model-model pengembangan sistem untuk mengetahui perilaku model digunakan software Stella. Dengan menggunakan analisis prospektif, masing-masing faktor penting didefinisikan kemungkinan keadaannya (stake) di masa depan dan dirumuskan berbagai skeario starategi masa depan dalam pengembangan sistem yang dikaji. Pada tahap akhir, dapat dirumuskan implikasi kebijakan dan strategi pengembangan kebijakan pengelolaan pesisir dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di pantura dan DAS Citarum Jawa Barat. Sedangkan metode yang akan digunakan dalam kegiatan valuasi ekonomi dampak pencemaran adalah metode Damage function, khususnya pendekatan Replacement Cost dan Opportunity Cost .

Nilai indeks keberlanjutan sistem pengelolaan pesisir dan DAS (IkB-SIPPDAS) di pesisir dan DAS Citarum, Pantura Jawa Barat secara multidimensi yang dianalisis dengan metode Rap-SIPPDAS dengan menggunakan multidimension scalling (MDS) DAS Citarum di bagian hulu, tengah hingga hilir berturut-turut adalah sebesar 38.23; 38.27; dan 33.59 pada skala sustainabilitas 0-100. Nilai indeks tersebut termasuk kedalam kategori kurang berkelanjutan. Hasil analisis terhadap setiap dimensi pengelolaan pembangunan menunjukkan bahwa dimensi ekonomi menunjukkan bahwa dimensi ekonomi baik DAS Citarum bagian hulu, tengah dan hilir, memiliki nilai indeks paling tinggi, yaitu sebesar 88.29.

Nilai indeks tersebut termasuk kedalam status kategori “Baik” atau berkelanjutan dan yang paling rendah adalah dimensi ekologi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa metode Rap-SIPPDAS cukup baik untuk dipergunakan sebagai salah satu alat untuk mengevalusi sistem kebijakan pengelolaan pesisir dan DAS di suatu kawasan atau wilayah secara cepat (rapid appraisal). Ada tiga skenario strategi sistem kebijakan pengelolaan pesisir dan DAS di Pantura dan DAS Citarum Jawa Barat, yaitu: (1) skenario konservatif-pesimistik; (2) skenario moderat-optimistik; dan (3) skenario progresif-optimistik.

Berdasarkan Analisis prospektif mampu mengeksplorasi kemungkinan dimasa yang akan datang sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan. Dua tahap analisis yang telah dilakukan sebelumnya memberikan gambaran tentang keadaan (existing condition) sistem pengelolaan DAS, pesisir dan laut di wilayah studi saat ini. Analisis prospektif merupakan bertujuan untuk mempersiapkan  tindakan strategis di masa depan dengan cara menentukan faktor-faktor kunci yang berperan penting terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Kondisi kualitas air di DAS hulu, hilir dan muara Citarum berdasarkan nilai indeks pencemaran (IP) pada 12 stasiun tergolong dalam kriteria cemar sedang dan cemar ringan dengan indeks skor sebesar 6.90 sampai dengan 1.30.

Hasil Identifikasi faktor kunci/penentu berdasarkan hasil need analysis dari para pemangku kepentingan utama di dapatkan sebanyak 42 faktor kunci/penentu untuk mewujudkan sistem yang berkelanjutan.

Berdasarkan hasil penilaian pengaruh langsung antar faktor dari ke 42 faktor yang teridentifikasi didapatkan sebanyak sepuluh faktor yang mempunyai pengaruh kuat dan ketergantungan  antar faktor tersebut juga kuat.

Analisis tingkat kepentingan antara faktor sebagaimana menunjukkan bahwa terdapat dua faktor penentu/kunci yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap kinerja sistem  dan ketergantungan antar faktor yang rendah, yaitu: (1) forum koordinasi kelembagaan DAS Citarum Terpadu, (2) pendekatan ecoregion, serta empat faktor yang mempunyai pengaruh besar walaupun ketergantungan antar faktor tinggi, yaitu: (1) political commitment (2) penegakkan hukum lingkungan, (3) kawasan lindung 45% dan (4) cegah dan perbaiki pencemaran dan kerusakan. Dengan demikian keenam faktor tersebut perlu dikelola dengan baik dan dibuat berbagai keadaan (state) yang mungkin terjadi di masa depan agar terwujud sistem kebijakan pengelolaan DAS pesisir dan laut di DAS Citarum dan Pantura Jawa Barat.

Analisis tingkat kepentingan antara faktor pada DAS tengah Citarum terdapat tiga faktor penentu/kunci yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap kinerja sistem  dan ketergantungan antar faktor yang rendah, yaitu: (1) pendekatan ecoregion; (2), satu manajemen DAS dan (3) karakteristik DAS.

Analisis tingkat kepentingan antara faktor bahwa terdapat dua faktor penentu/kunci yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap kinerja sistem  dan ketergantungan antar faktor yang rendah, yaitu: (1) sosialisasi dan implementasi kajian naskah akademik; (2) pendekatan ecoregion;untuk pembangunan DAS tengah Citarum condition dan need analysis yang berpengaruh pada sistem kebijakan pengelolaan DAS bagian hilir Citarum Jawa Barat.

Analisis tingkat kepentingan antara faktor terdapat dua faktor penentu/kunci yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap kinerja sistem  dan ketergantungan antar faktor yang rendah yaitu: (1) forum koordinasi kelembagaan DAS Citarum Terpadu, (2) Insentif.

Berdasarkan hasil model ekonomi dampak pencemaran untuk menduga nilai ekonomi pencemaran DAS Citarum berdasakan beban pencemaran yang diindikasi oleh beban COD. Berdasarkan hasil simulasi menunjukkan bahwa pada bagian hulu, jumlah polutan berjumlah 7.236 ton COD per tahun (total polutan diwakili oleh parameter COD) dengan nilai ekonomi sebesar  Rp 979.309.621.170 ( Rp 979.3 milyar/th).  Di bagian Tengah hilir jumlah polutan sebesar  99.515 kg COD dengan nilai Rp 13.466.974.281.750 (Rp 13.4 triliun/th). Sedangkan di bagian Tengah hilir jumlah polutan sebesar  236.072 kg COD dengan nilai 31.946.480.471.905 (Rp 31.9 triliun/th) . Dengan demikian dampak pencemaran oleh aktivitvitas di bagian hilir  adalah selisih antara bagian hulu  dan hilir sebesar  228.836 ton COD dengan Nilai Ekonomi  Rp 30.967.170.850.735 (Rp 31 triliun). Secara umum dapat dinyatakan bahwa nilai dampak pencemaran oleh aktivitas masyarakat di bagian hilir secara de facto adalah sebesar Rp 31 triliun.

Hasil analisis sistem dinamik erosi yang terjadi pada DAS Citarum berkisar dari 120.31 ton/ha/th Citarum Hulu sampai  956.66 ton//ha/th  DAS Citarum Tengah, dengan rata-rata 512.97 ton/ha/th. Erosi tertingi  terjadi pada bagian DAS Citarum Tengah disusul oleh bagian DAS Citarum Hulu dan kemudian bagian Hilir.

Rancang bangun dampak dan implementasi kebijakan dari skenario pengelolaan DAS Citarum hulu Jawa Barat adalah satu manajemen DAS dan pesisir terpadu, rancang bangun dampak dan implementasi kebijakan dari skenario pengelolaan DAS Citarum tengah Jawa Barat adalah pendekatan ecoregion dari skenario progresif-optimistik dan rancang bangun dampak dan implementasi kebijakan dari skenario pengelolaan DAS Citarum hilir Jawa Barat adalah forum koordinasi kelembagaan DAS Citarum terpadu dari skenario progresif-optimistik. Kebijakan strategi tersebut diperlukan oleh kampuan dari stakeholders yang mengimplementasikan dan urgensi permaslahan.

Kata Kunci: rancang bangun, DAS pesisir sistem, skenario, kebijakan, pencemaran

Pos ini dipublikasikan di Makalah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s